Kajian Kitab Klasik dan Semarak Bazar Warnai Ramadan di Pesantren Tebuireng

  • Whatsapp
kajian kitab klasik dan semarak bazar

Jawa Timur – Di bulan Ramadan membawa atmosfer berbeda adanya kajian kitab klasik dan semarak bazar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kesibukan santri kian padat dengan berbagai program khusus Ramadan.

Kajian Kitab Klasik

Setiap selesai shalat lima waktu, para santri diwajibkan mengikuti kajian kitab kuning. Tradisi ini menjadi ciri khas Ramadan di Pesantren Tebuireng. Tahun ini, beberapa kitab yang dikaji antara lain Washaya, At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an, Ihya Ulumudin, dan Shahih Bukhari.

Suasana di serambi Masjid Jami Tebuireng tampak penuh dengan ratusan santri yang serius mengikuti kajian kitab kuning di bawah bimbingan ustaz. Di kompleks asrama santri, suasana serupa juga terlihat. Kesibukan para santri dengan kajian kitab kuning membuat suasana pesantren terasa lebih tenang dan penuh dengan semangat belajar.

“Kajian kitab kuning ini menjadi salah satu program unggulan di Pesantren Tebuireng untuk memperdalam ilmu agama para santri,” ungkap KH. Fahmi Amrullah Hadziq atau Gus Fahmi, Kepala Pondok Putri sekaligus Pengasuh Pesantren Al Masruriyah Tebuireng.

Semarak Bazar Ramadan

Selain kajian kitab kuning, Ramadan di Pesantren Tebuireng juga dimeriahkan dengan adanya bazar. Berbagai macam makanan dan minuman tersedia di bazar, sehingga para santri dapat memilih menu berbuka puasa yang mereka inginkan.

Bazar ini dibuka menjelang waktu berbuka puasa dan malam hari setelah shalat tarawih. Kehadiran bazar ini menjadi momen yang dinanti para santri untuk berbuka puasa bersama dan bersantai setelah seharian mengikuti kegiatan Ramadan.

Tradisi Ramadan yang Telah Berlangsung Lama

Kajian kitab klasik dan bazar Ramadan merupakan tradisi yang telah berlangsung lama di Pesantren Tebuireng. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam upaya pesantren untuk membentuk karakter santri yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

“Tradisi Ramadan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai-nilai pesantren dan menanamkan kecintaan para santri terhadap bulan Ramadan,” jelas Gus Fahmi.

Momen Istimewa untuk Meningkatkan Keimanan dan Ukhuwah

Bagi para santri, Ramadan di Pesantren Tebuireng menjadi momen istimewa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Selain itu, Ramadan juga menjadi waktu bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama dan mempererat tali persaudaraan dengan sesama santri.

“Bulan Ramadan ini menjadi kesempatan bagi para santri untuk meningkatkan kualitas diri mereka,” kata Gus Fahmi.

Pesantren Tebuireng: Menjaga Tradisi Ramadan di Era Modern

Di tengah era modern yang serba digital, Pesantren Tebuireng tetap menjaga tradisi Ramadan yang telah berlangsung lama. Hal ini menunjukkan komitmen pesantren dalam menjaga nilai-nilai agama dan budaya di tengah arus perubahan zaman.

“Pesantren Tebuireng ingin menunjukkan bahwa tradisi Ramadan ini masih relevan dan memiliki nilai penting bagi para santri di era modern,” ujar Gus Fahmi.

Tradisi Ramadan di Pesantren Tebuireng, seperti kajian kitab klasik dan bazar Ramadan, merupakan warisan berharga yang harus dilestarikan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam upaya pesantren untuk membentuk karakter santri yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

“Tradisi Ramadan ini merupakan warisan dari para pendiri pesantren. Kita harus menjaga dan melestarikannya,” kata Gus Fahmi.

Kajian kitab klasik dan bazar Ramadan menjadi dua hal yang mewarnai suasana Ramadan di Pesantren Tebuireng. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam upaya pesantren untuk membentuk karakter santri yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Bagi para santri, Ramadan di Pesantren Tebuireng menjadi momen istimewa untuk meningkatkan keimanan dan ukhuwah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *