Chikita Meidy Ungkap Pengalaman Bullying Saat SD, Berbagi Kondisi Kesehatan Mentalnya

  • Whatsapp

Penyanyi cilik Chikita Meidy baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan dalam wawancara di kanal YouTube Ferdy Element. Chikita membuka sebuah rahasia yang selama ini belum pernah diungkapkannya ke depan publik. Dalam kesempatan tersebut, Chikita mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban bully saat masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.

“Jadi aku punya kakak kelas yang lumayan keji sama aku. Jadi dia adalah seorang yang besar banget tapi sampai sekarang dia gak bisa negor akhirnya. Jadi aku dibully,” ungkap Chikita Meidy saat menceritakan kisah pembullyan terhadap dirinya saat SD.

Bacaan Lainnya

Pengakuan ini membuat publik terkejut, mengingat Chikita Meidy dikenal sebagai sosok yang ceria dan berbakat di dunia hiburan anak-anak. Chikita menceritakan kekejaman pembullyan yang dialaminya hingga membuat mentalnya terganggu dan bahkan memutuskan untuk berhenti bernyanyi.

Kejadian ini mengingatkan pada kasus serupa yang dialami oleh artis Marshanda, yang juga pernah menjadi korban bullying saat bersekolah. Marshanda bahkan sempat mengunggah video makian untuk teman-teman SD yang membullynya.

“Lagu ini kayanya paling cocok buat temen-temen SD gue, yang musuhin gue waktu gue SD, gue nggak punya temen. Gue struggle kaya orang gila di sekolah gue sendiri,” demikian curhatan Marshanda beberapa tahun lalu, yang kini masih berjuang dengan kesehatan mentalnya.

Dari kedua kasus tersebut, terlihat bahwa pembullyan tidak memandang status sosial atau popularitas korban. Chikita Meidy dan Marshanda, dua sosok yang memiliki karir di dunia hiburan dan terkenal, ternyata juga pernah mengalami penderitaan akibat tindakan bullying.

Menurut penjelasan dari Verywell Mind, motif di balik tindakan bullying dapat bervariasi. Beberapa pelaku bullying melakukannya karena merasa tidak berdaya, merasa insecure, ingin mengendalikan orang lain, atau bahkan menikmati hasil dari penindasan yang mereka lakukan.

Tindakan bullying juga tidak terbatas pada karakteristik fisik tertentu atau anggapan bahwa hanya anak yang cenderung “cupu” yang menjadi target. Hal ini menunjukkan bahwa siapa pun, tanpa memandang popularitas atau keberhasilan, dapat menjadi korban tindakan bullying.

Rasa iri juga bisa menjadi salah satu pemicu tindakan bullying, terutama pada kaum perempuan yang mungkin merasa takut kalah cantik, takut kalah tenar, dan sebagainya. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran terhadap tindakan bullying di sekitar kita dan berusaha mencegahnya.

Dalam kasus Chikita Meidy, pengakuan ini juga menjadi ajakan untuk berbicara lebih terbuka tentang kesehatan mental, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Semoga pengalaman Chikita Meidy dapat memberikan inspirasi bagi mereka yang pernah mengalami hal serupa untuk tidak merasa sendirian dan mencari dukungan yang mereka butuhkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *